Tuesday, March 29, 2016

Candy Pop Sponge Cake

Cara membuat Pop Sponge Cake

Sponge Cake
Sponge Cake
Bahan


  •     Blueband Cookies
  •     Blue Band Cake and Cookie 100 gr, lelehkan
  •     110 gr tepung terigu serbaguna
  •     175 gr gula pasir
  •     ½ sdt baking powder
  •     ½ sdt baking soda
  •     ½ sdt emulsifier
  •     5 butir telur ayam


DEKORASI:


  •     Buttercream
  •     Coklat putih



Cara membuat


  •     Panaskan kukusan.
  •     Kocok telur dan gula hingga mengembang. Masukkan emulsifier, kocok sebentar.
  •     Masukkan semua bahan kering, kocok rata. Masukkan Blue Band Cake & Cookie, lelehkan.     Kocok rata.
  •     Masukkan ke dalam loyang bulat (ΙΈ20cm) lalu kukus di atas api sedang selama 40 menit.


DEKORASI:


  •     Setelah dingin, hias dengan butter cream dan taburi dengan coklat dot.


Kue Merah Putih

Cara Membuat Kue Merah Putih

Kue Merah Putih
Kue Merah Putih
Bahan


  •     Blueband Cookies
  •     200 gr Blue Bland Cake and Cookie
  •     200 gr gula pasir
  •     4 butir telur ayam
  •     200 gr tepung terigu serbaguna
  •     1 sdt pewarna makanan merah
  •     1 sdt baking powder
  •     300 gr buttercream


Pilihan Topping:


  •     Candy chip merah dan putih
  •     Sprinkle warna-warni
  •     Remah kue


Loyang ukuran 20x20 cm
Waktu


Cara membuat


  • Panaskan oven 170°C. Kocok Blue Band Cake & Cookie dan gula hingga lembut dan mengembang.
  • Masukkan semua bahan lainnya, kocok rata.
  • Tuangkan adonan ke dalam loyang (diameter 20 cm) yang telah diolesi margarin hingga ¾ bagiannya terisi. Panggang dalam oven panas selama 40 menit. Angkat. Setelah dingin, olesi permukannya dengan buttercream dan hias dengan topping kesukaan.



Sunday, March 27, 2016

Guru Marzuki Cipinang Muara

Orang biasanya menyebutnya Guru Marzuqi Cipinang Muara walau di kitab-kitab yang dikarangnya ia menulis namanya dalam bahasa Arab Melayu tidak ada kata Cipinang, yaitu Guru Marzuqi Muara. Ada yang menulisnya dengan Marzuki, bukan Marzuqi. Saya terakhir kali berkunjung ke makamnya yang berada di Kompleks Masjid Jami Al-Marzuqiyah Cipinang Muara (Senin, 1/12/2014), tertulis di poster silsilah namanya dengan tulisan Marzuki.
Guru Marzuki
Guru Marzuki
Nama Lengkap Guru Marzuqi adalah As-syekh Ahmad Marzuqi bin Ahmad Mirshod bin Hasnum bin Ahmad Mirshod bin Hasnum bin Khotib Sa’ad bin Abdurrohman bin Sulthon yang diberikan gelar dengan “Laksmana Malayang” dari salah seorang sultan tanah melayu yang berasal dari negeri Pattani, Thailand Selatan. Ibunya bernama Hajjah Fathimah binti Al-Haj Syihabuddin Maghrobi Al-Madura, berasal dari Madura dari keturunan Ishaq yang makamnya di kota Gresik Jawa Timur. Al-Marhum Haji Syihabuddin adalah salah seorang khotib di masjidf Al-Jami’ul Anwar Rawabangke (Rawa Bunga) Jatinegara Jakarta Timur.
Guru Marzuqi dilahirkan pada malam Ahad waktu Isya tanggal 16 Romadhon 1293 H di Rawabangke (Rawa Bunga) Jatinegara Batavia (Jakarta Timur). Ketika ia berusia enam tahun, ia dikirim oleh ibundanya, Siti Fatimah, belajar ilmu agama kepada kakeknya, Syaikh Syihabuddin Al-Maduri, khatib dan pendiri masjid di Rawa Bangke, depan stasiun Jatinegara. Pada usia 9 tahun, ayahandanya, yang juga menjadi gurunya,wafat.. Pada usia 12 tahun, ia diserahkan kepada sorang ‘alim al-ustadz H. Anwar untuk mendapat pendidikan dan pengajaran Al-qur’an dan berbagai disiplin ilmu agama Islam lainnya.
Menurut Ridwan Saidi, selain kepada Ustadz H. Anwar, Ia juga didik oleh Guru Bakir yang bergelar birulwalidain, anak yang berkhidmat kepada orang tua. Makam Guru Bakir terdapat di serambi samping masjid Rawa Bunga (Rawa Bangke), Mester. Orang Betawi Kampung Mester menyebut Guru Bakir sebagai Dato Biru. Kemudian, untuk memperluas ilmu agamanya, maka ibundanya menyerahkan lagi kepada ‘Allamah Sayyid “Utsman bin Muhammad Banahsan.
Melihat kejeniusan dan kekuatan hafalan dari Marzuki muda, pada usianya keenam belas tahun, Saayyid ‘Utsman mengirimnya ke Makkah untuk belajar ilmu fiqih, ushul fiqih, tafsir, hadits hingga mantiq. Kesempatan menuntut ilmu tersebut benar-benar dipergunakan dengan sebaik-baiknya, sehingga, dalam waktu hanya 7 tahun saja beliau telah mencapai segala apa yang dicita-citakannya, yakni menguasai ilmu agama untuk selanjutnya diamalkan, diajarkan serta dikembangkan. Guru-gurunya di Makkah diantaran adalah Syaikh Usman Serawak, Syaikh Muhammad ‘Ali Al-Maliki, Syaikh Umar Bajunaid Al-Hadhrami, Syaikh Muhammad Amin Sayid Ahmad Ridwan, Syaikh Syaikh Hasbulloh Al-Mishro, Syaikh Umar Al-Sumbawi, Syaikh Mukhtar `Atharid, Syaikh Ahmad Khatib Al-Minangkabawi, Syaikh Mahfudz At-Tarmisi, Syaikh Sa`id Al-Yamani, Syaikh Abdul Karim Ad-Dagestani dan Syaikh Muhammad ‘Umar Syatho. Dari gurunya yang lain, yaitu Syaikh Sayyid Ahmad Zaini Dahlan (Mufti Makkah), Guru Marzuqi memperoleh ijazah untuk menyebarkan Tarekat Al-Alawiyah.
Saat memasuki tahun ke- 7 beliau bermukim di Makkah, datanglah sepucuk surat dari Sayyid Utsman yang meminta agar Guru Marzuki kembali ke Jakarta. Maka pada tahun 1332 H atas pertimbangan dan persetujuan guru-gurunya di Makkah beliau kembali pulang ke Jakarta dengan tugas menggantikan Sayyid ‘Utsman (guru beliau) dalam memberikan pendidikan dan pengajaran kepada murid-muridnya. Tugas yang diamanatkan ini dilaksanakan sebaik-baiknya sampai sayyid Utsman wafat.
Pada tahun 1340 H, ia melihat keadaan di Rawa Bangke (Rawa Bunga) sudah tidak memungkinkan lagi untuk mengembangkan agama Islam, karena lingkungannya yang sudah rusak. Ia segera mengambil suatu keputusan untuk berpindah ke kampung Muara. Disinilah ia mengajar dan mengarang kitab-kitab di samping memberikan bimbingan kepda masyarakat. Nama dan pengaruhnya semakin bertambah besar, karena bimbingannya banyak orang-orang kampung memeluk agama Islam dan kembali ke jalan yang diridhoi Allah SWT. Tak hanya itu, para santri dan pelajar banyak berdatangan dari pelosok penjuru untuk menimba ilmu kepada beliau. Sehingga tepat kalau akhirnya kampong tersebut dijuluki “Kampung Muara”, karena disanalah muaranya orang-orang yang menuntut ilmu. Pada pagi hari jum’at jam 06.15 WIB tanggal 25 Rajab 1352 H, Guru Marzuki wafat. Jenazahnya dikebumikan sesudah sholat Ashar yang dihadiri oleh para ‘ulama dari berbagai lapisan masyarakat, yang jumlahnya amat banyak sehingga belum terjadi saat-saat sebelumnya. Acara sholat jenazahnya diimami oleh Sayyid ‘Ali bin Abdurrahman Al-Habsyi (Habib ‘Ali Kwitang).
Adapun kitab-kitab yang dikarangnya ada 13 buah, yang dapat dilihat sekarang hanya 8 buah, berisi tentang fiqih, akhlak, akidah, yaitu:
Zahrulbasaatin fibayaaniddalaail wal baroohin.
Tamrinulazhan al-`ajmiyah fii ma’rifati tirof minal alfadzil‘arobiyah.
Miftahulfauzilabadi fi’ilmil fiqhil Muhammadiyi.
Tuhfaturrohman fibayaniakhlaqi bani akhirzaman.
Sabiluttaqlid.
Sirojul Mubtadi.
Fadhlurrahman.
Arrisaalah balaghah al-Betawi asiirudzunuub wa ahqaral isaawi wal `ibaad.

Guru Marzuqi dijuluki sebagai “Gurunya Ulama Betawi”, dalam pengertian, dari murid-murid yang didiknya banyak yang menjadi ulama Betawi terkemuka, di dalam satu keterangan ada sekitar empat puluh satu ulama Betawi terkemuka. Di antaranya adalah: Mu`allim Thabrani Paseban (kakek dari KH. Maulana Kamal Yusuf), KH. Abdullah Syafi`i (pendiri perguruan Asy-Syafi`iyyah), KH. Thohir Rohili (pendiri perguruan Ath-Thahiriyyah), KH. Noer Alie (Pahlawan Nasional, pendiri perguruan At-Taqwa, Bekasi), KH. Achmad Mursyidi (pendiri perguruan Al-Falah), KH. Hasbiyallah (pendiri perguruan Al-Wathoniyah), KH. Ahmad Zayadi Muhajir (pendiri perguruan Az-Ziyadah), Guru Asmat (Cakung), KH.Mahmud (Pendiri Yayasan Perguruan Islam Almamur/Yapima, Bekasi), KH. Muchtar Thabrani (Pendiri YPI Annuur, Bekasi), KH. Chalid Damat (pendiri perguruan Al-Khalidiyah), dan KH. Ali Syibromalisi (pendiri perguruan Darussa’adah dan mantan ketua Yayasan Baitul Mughni, Kuningan-Jakarta). 

Mutiara Cinta Majelis Sayyidul Wujud

Ada seorang bapak yg selalu mengajak anaknya yg masih berumur 7 th untuk selalu hadir di majelis sholawat, dgn mengendarai sepeda setiap seminggu sekali mereka menempuh perjalanan 3 km untuk menghadiri majelis tersebut, setelah sampai menghadiri majelis maka anak nya selalu tertidur di pangkuan bapaknya karna lelah,maka setiap seminggu sekali mereka menempuh perjalanan 6 km bolak balik naik sepeda demi untuk menghadiri majelis sholawat.
Mutiara Cinta
Mutiara Cinta
Setelah berapa tahun mereka selalu menjalani hal tersebut hingga suatu saat setiap tengah malam si anak selalu terbangun dan berbicara sendiri yg dikira mengigau oleh bapaknya, lama kelamaan si bapak selalu mengintip tingkah laku anaknya itu hingga suatu saat rumah mereka tercium bau aroma yg sangat wangi sampai keesokan harinya hingga beberapa hari..dan pada suatu malam si anak tidak bisa tidur dan minta mandi malam serta minta dipakaian minyak wangi lalu dgn terheran heran si bapak bertanya.."Kenapa engkau mau seperti ini anakku?..maka dijawab oleh anaknya.."Wahai bapak ku,aku malu kalau bertemu Rasulullah saw dalam keadaan seperti ini"..bagaikan disambar petir di siang bolong maka terkejut luar biasa bapaknya,karna baru tau kalo setiap seminggu sekali bahwa anaknya selalu bertemu dan berbicara langsung kepada Rasulullah saw dgn berkah ketekunan mereka menghadiri majelis sholawat..
Wallahu a'lam bisshowab..

MBAH YAI AHMAD MUBARRID

Di tengah Siang yg cukup panas.. Alhmd kulo kalih kang Warno Bagus menyepatkan diri menimba air nan sejuk...yg mendinginkan tiap manusia yg mengunjungi air sejuk itu.
MBAH YAI AHMAD MUBARRID
MBAH YAI AHMAD MUBARRID
Yaa mbah mubarrid...dr nama nya saja udah berarti pendingin...
Di usia beliau yg sudah 100 tahun...dg pendengaran yg sudah memudar.. Tp alhmd masi sehat masi menyambut hangat kedatangan kami dg acungan jempol khas nya...yg dulu saya liat bbrp taun lalu drmh habib syekh sewaktu di metrodanan...
Jaman itu jaman cukup indah
Beliau mbah barid adalah waliyallah yg bersembunyi dg rumah sederhana nya di tengah hiruk pikuk kota solo..
Jarang yg ngah bahwa beliau adalag ahli tafsir....ahli nahwu....bahkan masi ingat hafalan alfiyah ibnu malik nya..
Kami pun duduk....beliau langsung memandangi ft habib anis...sambil mengatakan hadza ustadzi....(beliau guru saya) memang mbah barid mendapat pandangan khusus dr habib anis... Ketika datang ke riyadh beliau langsung ditempatkan di depan samping para habaib...
Dg gaya khas yg apa adanya... Berbatik kadang pake koko dg surban lusuh dan caping....smua habaib di riyadh hormat kpd beliau...
Bahkan saya masi ingat kala itu ada tamu dr hadramut sampe takjub melihat beliau melantunkan alfiah...di umur yg sangat senja kala itu...90an
Beliau mbah mubarrid merupakan murid kesayangan mbah yai siroj yg terkenal keramat itu...
Beliau bercerita jika ada tahlinan mbah siroj kalo dtg g mau maju ke dpn...beliau duduk di blkg beliau g mau mimpin tahlil...beliau selalu nyuruh mbah barid yg gantiin..
Kini di umur yg ke 100 beliau hidup tenang bersama istri yg stia merawat...
Dg rumah yg cukup kecil..
Seadanya....
Tetap sejuk...g pernah membuat yg dtg sedih... Selesai sowan selalu gembira krn sejuk nya mbah barid..
Pernah beliau mengadopsi 10 anak yatim pdhl beliau sangat miskin..
Subhanallah...
Bi niyat sehat wal afiat tulil umur fi thoatilah lahul fatehah....